Local

Pasca Kecelakaan Maut Kapal Cepat SB Ryan, Komisi III Langsung Dengar Pendapat dengan Dishub, Begini Catatannya

TANJUNG SELOR – Sehari pasca kecelakaan kapal cepat SB Ryan yang menyebabkan 5 korban jiwa di perairan Sungai Sembakung, Kabupaten Nunukan, DPRD Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar rapat dengar pendapat dengan jajaran Bidang Pelayaran Dinas Perhubungan Provinsi Kaltara, Selasa (8/6/2021).

Rapat yang dilangsungkan di ruang sidang DPRD itu dihadiri Ketua DPRD Norhayati Andris, Ketua Komisi III Albertus SM Baya, Ketua Fraksi Hanura Elia Djalung, dan Ketua Fraksi PDIP Rakhmat Sewa. Deretan legislator itu mencecar pertanyaan ke Datu Iman Suramengggala, Kepala Bidang Pelayaran Dishub Kaltara.

Rapat dengar pendapat ini menitikberatkan pembahasan penyebab kecelakaan SB Ryan dan evaluasi penyelenggaraan transportasi laut sungai ke depan.

Dalam penyampaiannya, Albertus berpendapat moda transportasi kapal cepat adalah pilihan utama masyarakat untuk mengakses berbagai daerah di Kaltara. Namun dari sisi legalitas, masih ada moda transportasi yang belum legal.

“Ke depan kita mau ada jaminan keselamatan salah satunya berupa izin legal. Kalau masalah alam, itu di luar kuasa kita. Namun hal-hal yang menyangkut teknis, izin, keselamatan, SOP kita harapkan ada informasi lebih detil,” kata Albertur SM Baya.

Dalam pendapatnya, Elia DJ belum cukup yakin kecelakaan tersebut dipicu faktor alam, pusaran arus sungai.

“Karena faktor alam dan pusaran air bagi saya belum masuk akal. Pertama, lihat jumlah penumpang. Kalau overload, tidak akan stabil dikemudikan. Kedua, spesifikasi. Ketiga, apakah baru kali ini motoris baru melewati jalur itu. Saya yakin lintasan ini sering dilalui motoris lain,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan keberadaan rambu-rambu di sepanjang rute sungai.

“Bagaimana rambu-rambu di alur sungai untuk mengantisipasi medan. Kemudian, motoris speedboat itu sehat jasmani atau tidak? Apalagi bukan dari pelabuhan resmi,” ujarnya.

Ia menegaskan pula, keberadaan pelabuhan-pelabuhan tanpa izin dan bukan pada tempatnya harus ditindak tegas.

“Hal-hal demikian harus jadi catatan Dishub. Ini sudah berkali-kali dan berulang. Saya rasa di Dishub harus segera mengambil sikap dan kebijakan terhadap yang ‘gelap-gelap’ ini. Agar tidak ada yang main-main dengan nyawa masyarakat,” tegasnya.

Datu Iman menjelaskan, kecelakaan dapat dipicu tiga hal. Yakni masalah teknis yaitu layak atau tidaknya moda, human error, dan faktor alam.

Dishub Kaltara pun belum menarik kesimpulan penyebab kecelakaan tersebut.

Kami memohon peristiwa ini, KNKT yang masuk (menyelidiki) karena yang punya keahlian menilai faktor penyebabnya. Pengalaman terbaliknya speedboat Anugrah pada tahun baru 2018 lalu, KNKT. Rekomendasi KNKT, armadanya tidak layak. Karena kursi penumpang duduk berhadapan. Karena ketika oleng, sulit dikendalikan,” paparnya.

“Dasar itu, kami mewajibkan armada reguler untuk mengikuti rekom KNKT. Tidak adalagi yang duduknya berhadapan. Jadi rekom KNKT ini dibutuhkan karena secara hukum punya kewenangan untuk merekomendasikan bahkan merubah armada. Kami harap ada tindaklanjut membahas ini bersama KNKT,” ujarnya.

Ia menambahkan, bagi kapal cepat non-reguler umumnya tidak ada yang masuk spesifikasi keselamatan pelayaran.

“Maksud kami, momen ini bisa kita jadikan alasan untuk perbaikan ke depan bagaimana berbicara dengan teman-teman non-reguler. Karena sampai saat ini menjadi masalah laten. Di satu sisi kami tidak punya kewenangan ke situ,” tambahnya.

Ia juga menyebut, kapal cepat yang melayani rute Tarakan-Sembakung hanya terdapat satu unit yang memenuhi syarat perizinan. Yaitu kapal cepat yang dikelola BUMDes Desa Plaju.

“Sampai saat ini, selebihnya tidak ada izin. Non-reguler ada 11 armada. Kita keluarkan izin, mesti ada syarat teknis yang harus dilalui dilihat dari tenaga penggerak, ada toilet, dan lain-lain,” ujarnya.

“Kaitan penyebab kecelakaan SB Ryan, sampai saat ini kami tidak berani menyimpulkan, karena ada lembaga berwenang yang menyimpulkan yaitu KNKT,” tambahnya. (*)

Penulis: M07
Editor: Wil

Tags

Related Articles

Back to top button
Close