OPINI
Trending

OPINI – Inflasi Menjelang Ramadan di Kalimantan Utara

Penulis: Andika Veriyanto, SST
Instansi : Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan UtaraJabatan: Statistisi Seksi Statistik Harga Konsumen Dan Harga Perdagangan Besar

Kata inflasi tidaklah asing kita dengar. Istilah inflasi sering kita dengar di berbagai kesempatan baik di media sosial, berita, maupun laporan perekonomian.

Angka inflasi merupakan kenaikan harga barang/jasa dibandingkan periode sebelumnya begitu juga sebaliknya. Deflasi merupakan penurunan harga barang/jasa dibandingkan periode sebelumnya.

Di Indonesia, perhitungan angka inflasi secara resmi dilakukan oleh Badan Pusat Statistik. Pada bulan Maret, Kalimantan Utara mengalami deflasi sebesar -0,02 persen.

Penyumbang utama deflasi di Kalimantan Utara adalah menurunnya harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar -0,68 persen dan kelompok transportasi sebesar -0,63 persen. Komoditas yang memiliki andil terbesar pada penurunan harga kedua kelompok pengeluaran tersebut adalah menurunnya harga emas perhiasan dan angkutan udara.

Perlu kita ketahui, deflasi di Kalimantan Utara merupakan gabungan antara Kota Tanjung Selor dan Kota Tarakan. Kota Tanjung Selor mengalami inflasi pada bulan Maret  sebesar 0,64 persen.

Sedangkan Kota Tarakan mengalami deflasi sebesar sebesar -0,19 persen. Penyumbang utama inflasi di Kota Tanjung Selor yaitu kenaikan harga pada kelompok bahan makanan, minuman dan tembakau sebesar 2.18 persen khususnya pada komoditas cabai rawit sebagai penyumbang inflasi tertinggi.

Sedangkan penyumbang utama deflasi di Kota Tarakan adalah penurunan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar -0,84 persen. Komoditas penyumbang deflasi tertinggi adalah emas perhiasan.

Penyebab inflasi/deflasi salah satunya adalah ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Peningkatan permintaan barang/jasa jika tidak diimbangi oleh peningkatan penawaran mengakibatkan kenaikan harga pada barang/jasa tersebut.

Peningkatan harga barang secara terus menerus akan menurunkan daya beli masyarakat yang mengakibatkan taraf hidupnya berkurang, khususnya bagi masyarakat berpendapatan rendah.

Peningkatan permintaan yang berlebihan biasa terjadi menjelang hari raya seperti lebaran ataupun natal dan tahun baru khususnya permintaan terhadap bahan makanan.

Menurut data BPS, perkembangan harga bahan pokok makanan di Kota Tarakan dan kota Tanjung Selor menjelang bulan suci Ramadan sudah menunjukan adanya kenaikan permintaan. Hal ini terlihat dari komoditas cabai rawit dan daging ayam ras yang mengalami inflasi tertinggi pada bulan Maret di kedua kota tersebut.

Kemudian telur ayam ras, bawang merah, bawang putih dan cabai merah juga mengalami inflasi di Kota Tanjung Selor. Sedangkan di Kota Tarakan, ke empat komoditas tersebut mengalami deflasi.

Langkah pemerintah yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi inflasi bahan makanan dengan meningkatkan produksi pangan lokal. Jika produksi lokal tidak dapat memenuhi permintaan domestik, dapat dilakukan kebijakan impor bahan makanan.

Hal yang menjadi perhatian khusus saat melakukan impor bahan makanan adalah kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif. Kelancaran distribusi  diperlukan agar bahan makanan datang tepat waktu.

Sedangkan komunikasi yang efektif antar daerah bermanfaat untuk mengetahui daerah produsen yang sedang panen. Hal ini dikarenakan beberapa daerah produsen bahan makanan mengalami gagal panen yang disebabkan oleh anomali iklim La Nina. Selain itu, harga bahan makanan akan lebih murah jika daerah tersebut sedang terjadi musim panen. (*)

Tags
Back to top button
Close