HeadlineOPINI
Trending

OPINI – Menilik Kebiasaan Merokok Pelajar Generasi Z di Kalimantan Utara

M. Nurul Alam Hasyim,S.ST
Staf Bidang Statistik Sosial – BPS Provinsi Kalimantan Utara

Rokok sudah menjadi hal yang lumrah dikonsumsi masyarakat di Indonesia. Berbagai alasan yang digunakan masyarakat untuk merokok, mulai dari yang sekadar penasaran hingga alasan tidak bisa berhenti karena sudah menjadi candu. Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa rokok memberikan banyak dampak buruk terhadap kesehatan.

Dampak rokok tidak hanya dirasakan oleh perokok itu sendiri tetapi juga orang-orang di sekitarnya yang menghisap asap rokok. Bahaya rokok juga sering digaungkan oleh World Health Organization (WHO). Menurut WHO, sekitar 225.700 orang di Indonesia meninggal setiap tahun akibat merokok atau penyakit lain yang berkaitan dengan tembakau.

Merokok menjadi semakin berbahaya di masa pandemi Covid-19 saat ini. WHO menyatakan bahwa perokok yang tertular Covid-19 lebih mungkin mengalami gejala yang lebih parah, dibandingkan dengan yang tidak merokok.

Meskipun berbahaya untuk kesehatan, ternyata peminat rokok di Provinsi Kalimantan Utara masih cukup tinggi. Pada tahun 2020, Data BPS menunjukkan bahwa persentase penduduk berusia lima tahun ke atas yang merokok tembakau di Provinsi Kalimantan Utara sebesar 19,89 persen. Sedangkan rata-rata rokok yang dihisap setiap minggunya sebanyak 108 batang rokok. Dengan jumlah rokok yang dihisap sebanyak itu mengindikasikan bahwa perokok di Kalimantan Utara didominasi oleh para perokok berat.

Tidak hanya orang tua, kebiasaan merokok ini ternyata diikuti juga oleh para kawula muda, khususnya generasi Z.  Generasi Z merupakan penduduk yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012 atau penduduk yang saat ini kira-kira berusia 8 – 23 tahun.

Hasil Sensus Penduduk 2020 di Kalimantan Utara menunjukkan bahwa generasi Z menjadi kelompok umur yang terbanyak dibandingkan kelompok umur lainnya dengan persentase sebesar 30,53 persen. Cukup disayangkan jika potensi masyarakat muda yang begitu melimpah masih terkendala kebiasaan merokok.

Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2020, didapatkan informasi bahwa perokok tembakau pada generasi Z di Kalimantan Utara sebesar 6,87 persen dengan rata-rata rokok yang dihisap sebanyak 103 batang per minggu.

Merokok pada usia muda dapat menyebabkan kerusakan sistem peredaran darah, yang memungkinkan akan bertambah parah saat ia tumbuh dewasa. Tidak hanya dampak terhadap kesehatan, merokok dapat mengganggu prestasi belajar para generasi Z khususnya yang masih bersekolah. Dari hasil survei tersebut juga didapatkan informasi bahwa 75,85 persen generasi Z di Kalimantan Utara merupakan penduduk yang masih duduk di bangku sekolah maupun kuliah, mirisnya sekitar 1,5 persennya merupakan perokok aktif.

Merokok pada usia pelajar biasanya dikarenakan terpapar oleh lingkungan, terbuai oleh iklan, maupun hanya sekadar ingin mencoba. Pelajar yang merokok dapat menganggu prestasi di sekolah baik itu prestasi akademis maupun non akademis. Berbagai riset menyebutkan bahwa rokok dapat menurunkan konsentrasi dan daya ingat pelajar. Selain itu, kondisi paru-paru yang terganggu akibat rokok dapat menyebabkan nafas menjadi pendek, sehingga dapat menurunkan prestasi pelajar khususnya di bidang olahraga.

1 2Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Back to top button
Close