Halo PolisiHeadlineLocal
Trending

Ada Hubungan Perdata di Kasus Penipuan Investasi HD Dekor, Begini Jawaban Penyidik

KALTARABISNIS.CO – Memakai rompi tahanan warna oranye, AI (35) alias M Jais digelandang tiga aparat Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kaltara ke ruang konferensi pers Polda Kaltara, Jumat (12/3) sekitar pukul 11.00 Wita.

AI adalah pemilik usaha wedding organizer HD Dekor dan minimarket Ratu Plaza yang tersandung kasus penipuan investasi. Catatan sementara terdapat sembilan orang investor dibuat gigit jari dengan akumulasi investasi terhimpun Rp 11,5 miliar.

Kesembilan korbannya adalah DI dengan investasi sebesar Rp 300 juta, MM Rp 2,8 miliar, WS Rp 1,4 miliar, SW Rp 1 miliar, SL Rp 600 juta, R Rp 3,5 miliar, MC Rp 800 juta, US Rp 600 juta, dan HS Rp 500 juta.

“Pelaku kami amankan di Kepulauan Alor (Nusa Tenggara Timur) saat proses pelariannya. Sebelumnya pelaku tinggal di Atambua menggunakan uang yang dibawa dari Tanjung Selor Rp 1,125 miliar. Di Atambua pelaku sempat membuka usaha toko baju dan warung makan. Saat diamankan membawa sejumlah uang Rp 130 juta. Itulah uang tunai yang bisa kami selamatkan sejauh ini,” sebut Kabid Humas Polda Kaltara Kombes Pol Budi Rachmat.

AI tak bergeming. Tangannya terborgol. Tubuhnya yang gempal diarahkan membelakangi wartawan dan pejabat Polda saat konferensi pers berlangsung.

Penipuan investasi dilakukan AI dengan menarik pemodal untuk berinvestasi dan melakukan pinjaman dana kepada korban dengan iming-iming memberikan bunga sebesar 40 hingga 100 persen. Uang yang terkumpul digunakan untuk operasional Ratu Plaza atau Usaha Dagang (UD) Safira.

Pengelolaan dana investasi yang berujung pada proses hukum itu berawal ketika AI pada tanggal 13 April 2020 meminjam modal sebesar Rp 300 juta kepada salah satu korban berinisial DI untuk membuka minimarket Ratu Plaza.

Penyidik memperlihatkan barang bukti penipuan investasi yang tersisa dari pelaku. (KALTARABISNIS.CO)

AI berjanji menjanjikan akan mengembalikan pinjaman tersebut sebesar Rp 400 juta dalam jangka satu bulan setelah peminjaman. Namun tiba masa DI menagih, tersangka AI tidak dapat menepati komitmen pengembalian dana. DI mengambil langkah hukum dengan melaporkan hal itu ke Polda Kaltara.

“Dari penyidikan sementara diperoleh fakta terdapat korban lain selain pelapor pertama. Berdasarkan pengakuan tersangka, jumlah uang yang diperoleh dari korban lainnya sekitar Rp 11,5 miliar,” sebut Kabid Humas.

Dalam konferensi pers itu pula terungkap AI melarikan diri dari Tanjung Selor sejak 14 Februari 2021. Berselang dua pekan penyidik Polda mengendus keberadaan AI dan berhasil menangkapnya di Alor pada 28 Februari 2021.

Direktur Reskrimum Polda Kaltara Kombes Pol Saut P Sinaga membenarkan dari dana investasi yang terhimpun Rp 11,5 miliar, hanya terselamatkan uang tunai Rp 130 juta.

“Ada buku rekening bank yang kami sita. Itu (uangnya, red) habis semua. Dari penyidikan kami, uangnya habis gitu-gitu aja,” bebernya.

Dalam kasus ini penyidik menerapkan Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terhadap tersangka AI. Ancaman hukumannya maksimal empat tahun.

“Betul ada hubungan perdata dalam kasus ini. Tetapi kita utamakan pidananya dulu. Sejauh ini belum ada mediasi atau mempertemukan pelaku dengan korban. Kita juga akan lihat dari penyidikan yang kami lakukan apakah ada arah ke TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) atau tidak. Sementara ini masih kita pakai KUHP,” kata Kombes Pol Saut P Sinaga. (*)

Penulis: Muhammad Arfan
Editor: Muhammad Arfan

Tags

Related Articles

Back to top button
Close