Ekonomi
Trending

Pertumbuhan Ekonomi Terbaru: Batu Bara Kaltara masih Lesu, Jasa Kesehatan Kian Oke

KALTARABISNIS.CO – Perekonomian Kalimantan Utara (Kaltara) tahun 2020 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 100,54 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 60,74 triliun. Demikian dilansir Kaltarabisnis.co dari rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara yang digelar Jumat 5 Februari 2021 secara virtual.

Ekonomi Kaltara tahun 2020 (c-to-c) tumbuh -1,11 persen, terjadi kontraksi pertumbuhan dibandingkan tahun 2019. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 11,57 persen.

Sedangkan yang menyebabkan kontraksi pertumbuhan adalah lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian yang minus sebesar 6,81 persen. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 1,58 persen.

Sedangkan komponen penyumbang kontraksi adalah komponen PMTB yang mengalami minus sebsar 3,04 persen.

Ekonomi Kaltara triwulan IV tahun 2020 bila dibandingkan triwulan IV tahun 2019 (y-on-y) tumbuh sebesar -4,76 persen mengalami kontraksi pertumbuhan bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Pengadaan Air, Pengelolaaan Sampah dan Daur Ualng sebesar 15,03 persen.

Sedangkan penyebab terjadinya kontraksi adalah Penyediaan Akomodasi dan makan Minum yang terjadi kontraksi sebesar 9,68. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan negatif tertinggi dicapai oleh komponen PMTB sebesar 3,39 persen.

Trino Junaidi, Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi Kaltara menyampaikan press rilis pertumbuhan ekonomi Kaltara, Jumat 5 Februari 2021.

Ditinjau dari triwulan IV-2020 dibanding triwulan sebelumnya (q-to-q) tumbuh sebesar 0,14 persen. Pertumbuhan terutama disebabkan oleh pertumbuhan Lapangan Usaha Pengadaan Air, Pengelolaaan Sampah dan Daur Ulang sebesar 9,20 persen. Pertumbuhan juga terjadi pada Lapangan Usaha Keuangan dan Asuransi sebesar 7,48 persen; Jasa Pendidikan sebesar 2,35 persen; Real Estat sebesar 2,06 persen; Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 1,59 persen dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 1,55 persen.

Sedangkan lapangan usaha yang mengalami kontraksi yaitu Pengadaan Listrik dan Gas minus sebesar 3,96 persen; Jasa Perusahaan minus sebesar 3,61persen; Transportasi dan Pergudangan minus 1,40 persen; Perdagangan Besar-Eceran minus sebesar 0,51 persen dan Pertambangan dan Penggalian minus sebesar 0,42 persen.

Dalam regional Pulau Kalimantan struktur ekonominya pada triwulan IV-2020 mengalami penurunan sebesar 2,27 persen. Ini karena seluruh provinsi mengalami penurunan.

Kalimantan Timur mengalami penurunan tertinggi yaitu sebesar 2,85 persen, sedangkan Kalimantan Utara mengalami penurunan yang paling rendah yaitu sebesar 1,11 persen.

Tiga provinsi lainnya mengalami penurunan antara 1,40 persen hingga 1,82 persen.

Batu Bara Kaltara masih Lesu, Jasa Kesehatan Kian Oke

Trino Junaidi, Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi Kaltara mengatakan, pada sisi lapangan usaha pertanian, produksi padi dan jagung mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kegiatan perkebunan kelapa sawit dan turunannya mulai pulih yang tercermin dari kenaikan produksi. Konsumsi hasil peternakan juga telah meningkat, terutama konsumsi daging dan telur. Namun produksi kayu justru turun seiring beban operasional di akhir-akhir tahun kemarin yang terus mengalami peningkatan.

Selain itu, produksi rumput laut juga ikut menurun akibat faktor cuaca. Namun kabar baiknya, produksi ikan masih terus meningkat.

Adapun lapangan usaha pertambangan dan penggalian, permintaan batu barat dari negara tujuan ekspor masih belum pulih sehingga produksinya mengalami penurunan.

Industri pengolahan dari kinerja industri makan minum telah membaik di triwulan IV-2020.

“Begitu juga pada industri kayu dan industri kimia, farmasi, dan obat selama pandemi Covid-19 membaik,” kata Trino Junadi.

Adanya perbaikan pembangkit listrik sehingga produksi listrik sedikit mengalami penurunan. Sedang produksi gas terus tumbuh dengan melanjutkan pembangunan infrastruktur sambungan rumah tangga.

“Dalam lapangan usaha pengadaan air, jumlah pelanggan dan volume produksi air meningkat seiring berbagai program percepatan sambungan ke rumah tangga,” ujarnya.

Berdasarkan Asosiasi Semen Indonesia, realisasi pengadaan semen mengalami peningkatan. Hal itu tidak diikuti oleh perdagangan besar dan eceran yang masih mengalami penurunan.

“Sementara perdagangan mobil dan motor serta reparasi mulai bergerak. Jasa transportasi darat serta laut dan sungai meingkat pada momen cuti bersama kemarin yaitu libur Natal dan Tahun Baru. Tetapi transportasi udara masih cenderung turun dengan berbagai kebijakan yang ada,” ujarnya.

“Tingkat hunian kamar hotel meningkat dari triwulan sebelumnya. Adapun kategori informasi dan komunikasi, percepatan transformasi digital pada masa pandemi Covid-19 mendorong tumbuhnya penyediaan jasa infokom,” tambahnya.

Peningkatan jasa kesehatan terutama untuk screening kesehatan sebagai upaya pencegahan penyebarluasan Covid-19 memberi kontribusi yang baik. (*)

Penulis: Muhammad Wil
Editor: Newsroom

Tags

Related Articles

Back to top button
Close