Local
Trending

DPKP Kaltara Seriusi IP 400 dan Korporasi Petani, Ini Penjelasannya?

KALTARABISNIS.CO – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) menatap tahun 2021 penuh optimistis. Sektor pertanian akan difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang ketahanan pangan daerah dan nasional.

Kepala DPKP Kaltara Wahyuni Nuzband mengungkap beberapa program prioritas yang akan dilaksanakan instansinya. Dalam rangka peningkatan produksi pertanian misalnya, tahun ini dijalankan program Indeks Pertanaman (IP) 400. IP 400 adalah cara tanam dan panen empat kali dalam satu tahun pada lahan yang sama.

“Kita diiminta untuk sektor pertanian ini fokus pada kegiatan yang menunjang ketahanan pangan,” tutur Wahyuni Nuzband kepada awal Kaltarabisnis.co, pekan kemarin.

Terkait pelaksanaan IP 400 lanjutnya, dilakukan upaya-upaya intensifikasi dan ekstensifikasi.

“Lahan-lahan yang sudah ada akan kita tingkatkan produksinya. Lahan-lahan tidur juga akan kita dorong secara maksimal agar produktif,” katanya.

IP 400 lanjutnya, dapat dikelola dalam klaster kawasan berbasis korporasi petani. Program korporasi petani kata Wahyuni saat ini tengah naik daun.

“Kalau dulu kita mengenal kelompok tani, kemudian dibesarkan lagi menjadi Gapoktan (gabungan kelompok tani), selanjutnya diharapkan Gapoktan saling bekerjasama sehingga hulu hilirnya pertanian bisa saling bersinergi. Makanya dibentuk koporasi petani,” ungkapnya.

“Di kaltara, kita menunjuk Kabupaten Bulungan sebagai pilot project-nya (korporasi petani). Ini sinergi dari Kementan, Pemprov, dan Pemkab,” tambah Wahyuni.

Untuk meningkatkan produksi pertanian baik tanaman pangan, holtikultura, perkebunan maupun peternakan, ada beragam strategi yang dilakukannya. Apalagi instansinya dihadapkan persoalan dukungan anggaran yang masih minim.

“Kondisi anggaran kami masih sama dengan tahun lalu. Tetapi dengan anggaran yang ada, kita tetap fokus. Ketika kita ingin meningkatkan produksi, kita berupaya untuk menyiapkan bibit benih,” ujarnya.

“Ini juga lagi musim pancaroba, La Nina, kita coba menyediakan anggaran pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman). Kemudian kita menyisihkan untuk tenaga-tenaga penyuluh agar dapat melakukan kaji terap demplot di lokasi masing-masing,” tambahnya.

Instansinya juga mendapat dukungan prorgam APBN melalui Satuan Kerja (Satker) Tanaman Pangan.

“Dari Ditjen PSP (Prasarana dan Sarana Pertanian) ada juga bantuan. Kalau dulu ada optimasi lahan, sekarang dananya tidak sebanyak sebelumnya. Tetapi tahun ini ada pembangunan irigasi,” tuturnya. (*)

Penulis: Muhammad Wil
Editor: Muhammad Wil

Tags

Related Articles

Back to top button
Close