HeadlineKeuangan
Trending

APBD Kaltara 2021 Diprediksi Alami Guncangan

KBSC – Ekonomi sebagian besar negara di dunia sangat terpukul dengan pandemi Covid-19. Saat ini sudah ada lima negara terjun ke jurang resesi.

Kelima negara tersebut yakni Jerman, Amerika Serikat, Singapura, Korea Selatan, dan Hongkong.

Resesi ekonomi merupakan penurunan signifikan kegiatan ekonomi yang berlangsung dalam beberapa bulan, ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang negatif setidaknya dalam dua kuartal berturut-turut.

Di Indonesia, pemerintah (pusat) siap mengambil langkah luar biasa atau extraordinary untuk mencegah perekonomian masuk ke dalam jurang resesi. Sekaligus mendorong pemulihan ekonomi pada kuartal tiga dan empat 2020.

Presiden Joko Widodo optimistis bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan pemulihan ekonomi tercepat setelah Cina pada 2021 mendatang. (Baca juga: Perlebar Jalan Pelabuhan Tunon Taka, Pemprov Siapkan Anggaran Segini)

“Indonesia diproyeksikan masuk ke kelompok dengan pemulihan ekonomi tercepat setelah Tiongkok. Kalau proyeksi benar, saya kira patut kita syukuri,” kata Jokowi saat membuka rapat terbatas via telekonferensi, Selasa, 28 Juli 2020.

Apa dampaknya bagi Kaltara? Gubernur Kaltara Irianto Lambrie optimistis provinsi muda ini mampu survive atau bertahan. Alasannya, jumlah penduduk Kaltara relatif kecil.

“Kedua, kekayaan alam kita masih bagus,” kata Gubernur kepada KBSC, Senin (3/8/2020).

Namun, ia memprediksi APBD Kaltara tahun 2021 bakal mengalami guncangan. (Baca juga: Kaltara Kedatangan Kuota Telur dari Kementan, Harganya Murah, Cek di Sini)

“Sebagai pembanding, penerimaan PAD DKI Jakarta turun 50 persen. APBD-nya dari Rp 80an triliun, sekarang cuma Rp 46 triliun,” ujarnya.

Penyebabnya, banyak wajib pajak tidak dapat membayar pajak. (Baca juga: Hore, Gaji ke-13 Cair Agustus Ini)

“Begitu juga di Kaltara, perusahaan minta penundaan bayar pajak. Itu berpengaruh terhadap APBD,” ujarnya.

Dana perimbangan ke Kaltara juga akan turun akibat ruang defisit APBN yang cukup besar.

“Kita tahun depan, harus prihatin memang. Mungkin proyek-proyek fisik itu akan berkurang. Tetapi saya tetap optimis pemerintahan Pak Jokowi akan tetap berusaha maksimal,” ujarnya.

Solusi yang ditawarkan adalah dengan melakukan pinjaman luar negeri.

“Tidak apa-apa. Jika itu bermanfaat, kenapa tidak. Daripada kita kelaparan, orang makin banyak menganggur jika ekonomi tidak bergerak,” ujarnya.

“Dan orang memberi utang ke kita karena ada kepercayaan. Pemerintah kita juga tidak mau utang sembarangan. Ada jaminan. Tetapi tentunya tidak menjual kedaulatan negara,” ujarnya. (*)

Penulis: Muhammad Wil
Editor: KBSC

Tags

Related Articles

Back to top button
Close