Mikro
Trending

Perkuat Ekspor, Daya Saing UKM Dipacu Lewat Penguatan Branding

KBSC, – Di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Perdagangan terus mendorong para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk tetap mengembangkan bisnisnya. Salah satunya, dengan menguatkan merek (brand).

Merek merupakan identitas dan kredibilitas perusahaan. Dengan strategi penguatan merek yang tepat, pelaku UKM dapat mengomunikasikan mutu, kualitas sifat, dan atribut produk tersebut kepada konsumen,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekpor Nasional Kasan dalam webinar Lembaga Kajian Nawacita, Selasa (30/6).

Dengan penguatan merek, pelaku UKM dapat meningkatkan ekspor produk-produknya. (Baca juga: Nyari Rempah Dapur Murah, Kepoin di TTIC Kaltara, Ini Alamatnya)

“Merek menciptakan keterikatan antara konsumen dengan produk UKM Indonesia, sehingga, konsumen akan kembali membeli produk tersebut. Dengan produk yang berdaya saing tinggi, merek juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen internasional terhadap produk UKM Indonesia,” imbuhnya.

Strategi lain yang dilakukan Kementerian Perdagangan untuk mendorong kemajuan pelaku UKM, yaitu memacu daya saing produk melalui program pengembangan desain produk kemasan dan penguatan hak kekayaan intelektual, antara lain dengan pengembangan merek, paten, serta indikasi geografis.

Kementerian Perdagangan juga melakukan optimalisasi perdagangan niaga elektronik, mendirikan pusat layanan konsumen terkait ekspor, dan kerja sama dengan sejumlah laman pemasaran.

Kasan menyampaikan, UKM berperan besar dalam perekonomian di dunia termasuk di Indonesia. (Baca juga: Kaltara Punya Toko Tani Centre, Ini Fungsinya)

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, pada 2019 jumlah UKM di Indonesia diperkirakan mencapai 64,19 juta usaha, atau 99 persen dari unit usaha di Indonesia.

Jumlah itu bila disertai dengan fasilitasi yang tepat sasaran dari program-program pemerintah, akan mampu menaikkan kontribusi UKM terhadap ekspor Indonesia.

Kasan mendorong pelaku UKM untuk menciptakan inovasi dan meningkatkan daya saing produknya.

Di tengah pandemi ini, tambahnya, banyak pelaku UKM yang kesulitan mendapatkan bahan baku akibat kebijakan karantina wilayah di negara penyuplai serta kesulitan melakukan ekspor karena negara tujuan sedang fokus pada pemulihan ekonomi.

Untuk itu, para pelaku UKM harus terus berinovasi, mulai dari diversifikasi produk, peningkatan kualitas, kecepatan pengantaran, hingga penguatan merek, agar dapat memenangkan kompetisi di pasar global.

Direktur Pengembangan Produk Ekspor Olvy Andrianita menyampaikan, ada sejumlah tantangan bagi UKM dalam pengembangan bisnisnya. (Baca juga: Kredit Konsumtif Ketinggian, Saran Gubernur Kaltara ke Bankaltimtara Ini Bikin Menohok)

Hambatan tersebut, antara lain terbatasnya kapasitas SDM dan pendanaan, inkonsistensi kapasitas dan kualitas produk, belum tersertfikasinya produk yang dihasilkan, kurangnya pengembangan desain produk dan kemasan, kurangnya keterampilan ekspor, serta belum memiliki merek.

Selain itu, penundaan agenda promosi, perubahan perilaku konsumen dari berbelanja secara luring menjadi daring, serta kewajiban penerapan protokol kesehatan dalam menjalankan bisnis juga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku UKM.

“Sengitnya kompetisi memaksa pelaku UKM memikirkan strategi pengembangan merek yang tepat untuk produk dan jasanya,” ujarnya. (Baca juga: Harga Udang Anjlok Serentak, Simak Analisa Jala Tech dan BI Kaltara)

“Merek harus mencerminkan nilai-nilai usaha produk unggulan UKM dan bisa menjadi sarana komunikasi yang efektif bagi konsumen lokal maupun global,” imbuh Olvy. (*)

Editor: KBSC

Tags

Related Articles

Back to top button
Close