DISPERINDAGKOP KALTARA CORNERHeadline

Lewat SOA, Disperindagkop Kaltara Kembali Hadirkan Barang Murah di Perbatasan

Melalui Jalur Sungai dan Udara


“Yang membuat mahal harga barang di perbatasan adalah ongkos angkutnya dari kota. Otomatis akan mempengaruhi harga barang di daerah-daerah perbatasan. Kita melakukan terobosan dengan mensubsidi cost angkutannya agar harga barang tidak berubah ketika sampai di perbatasan”

Hartono, Kepala Disperindagkop-UMKM Kaltara


KBSC – Program penyediaan barang dengan harga murah bagi masyarakat di perbatasan negara di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau tetap berlanjut di tahun 2019 ini. Melalui Organisasi Pengkat Daerah (OPD) Disperindagkop-UMKM Kaltara, program disebut Subsidi Ongkos Angkut (SOA) Barang ini dianggarkan dalam APBD sebesar Rp 9 miliar.

Sesuai namanya, SOA Barang, Disperindagkop Kaltara mensubsidi tarif angkutan barang ke wilayah-wilayah sasaran. Tujuannya agar harga barang yang dibeli di kota, akan sama ketika sampai di wilayah sasaran.

“Yang membuat mahal harga barang di perbatasan adalah ongkos angkutnya dari kota. Otomatis akan mempengaruhi harga barang di daerah-daerah perbatasan. Kita melakukan terobosan dengan mensubsidi cost angkutannya agar harga barang tidak berubah ketika sampai di perbatasan,” kata Hartono, Rabu (24/4/2019).

Prosesi pemotongan pita tanda dimulainya SOA Barang ke perbatasan Kaltara 12 April lalu di Kota Tarakan.

Tiga rute wilayah sasaran SOA Barang tengah berjalan sejauh ini.

Mensubsidi tarif angkutan perahu dari Nunukan ke Seimanggaris, Disperindagkop-UMKM menyiapkan anggaran sebesar Rp 1,5 miliar. Kemudian tarif angkutan dari Mensalong ke Lumbis Ogong sebesar Rp 3,2 miliar. Dua rute SOA Barang di Kabupaten Nunukan tersebut dilaksanakan dengan moda transportasi air/sungai.

“Masih di Nunukan, ada rute dari Tarakan dengan daerah sasaran adalah Krayan. Ini menggunakan transportasi udara. Karena memang belum ada akses darat yang tembus ke sana. Sehingga opsinya adalah melalui jalur udara. Untuk jalur udara ini, kami siapkan anggaran sebesar Rp 2,5 miliar,” sebutnya.

Selain tiga saran wilayah di Kabupaten Nunukan tersebut, terdapat dua rute sasaran di Kabupaten Malinau. Mencakup Kecamatan Pujungan dan Kecamatan Bahau Hulu yang melalui jalur sungai dari Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan menggunakan perahu berukuran panjang. Dua rute tersebut sementara dalam proses lelang.

“Ini lelang kedua kalinya. Karena yang pertama batal. InsyaAllah kita berharap secepatnya akan berjalan juga. Kita memilih jalur dari Tanjung Selor karena jaraknya melewati sungai lebih dekat dibandingkan dari Malinau Kota. Kita ingin pelaksanaan yang efektif dan efisien. Tentunya itu pun ada resiko karena melewati sungai,” ujarnya.

Jenis barang yang diangkut mencakup bahan-bahan pokok, perlengkapan sekolah murid dan siswa di perbatasan, termasuk alat-alat keperluan dapur masyarakat. Selain bertujuan menyediakan harga barang yang murah di perbatasan, program subsidi ini juga diharapkan mengurangi ketergantungan masyarakat perbatasan dari produk-produk Malaysia.

“Barang yang dibeli dari kota oleh masyarakat, kemudian dikumpulkan pada penyalur-penyalur yang kami tunjuk. ITu juga sebagai upaya antisipasi agar harga tidak naik. Artinya harga di perbatasan akan sama dengan harga di agen di kota,” tutur Hartono.

Untuk diketahui, di tahun 2016 Disperindagkop menggelontorkan anggaran SOA Barang sebesar Rp 8,6 miliar. Tahun 2017 meningkat menjadi Rp 9 miliar, dan berlanjut pada tahun 2018 dan tahun 2019 masing-masing Rp 9 miliar. (*/mma)

Tags

Related Articles

Back to top button
Close