Tips & Global
Trending

WAWANCARA EKSLUSIF – Di Balik Album Soul of Borneo Milik Uyau Moris

KALTARABISNIS.CO – Album Soul of Borneo baru saja dirilis Uyau Moris, Jumat (4/5) malam di Roadhouse Cafe, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara). Album itu merupakan album keempat selama Uyau berkarir di jalur musik tradisional.

Beberapa lagu dalam album adalah remake dari instrumental lagu yang pernah dibawakan sebelumnya.

Uyau Moris pernah berhenti memproduksi album fisik empat tahun belakangan. Itu karena industri musik Tanah Air juga mulai beralih dari album fisik ke album digital.

Selengkapnya petikan wawancara Kaltarabisnis.co kepada Uyau Moris di Roadhouse Cafe, Jumat (4/5) malam.

Apa yang memotivasi Anda kembali merilis album baru?

Aku pengen sampaikan bahwa Kalimantan itu bukan kayak dulu lagi. Kalau kita flashback 20 tahun yang lalu, ketika mendengar Kalimantan, orang akan berpikir, kaya akan flora dan fauna, surganya dunia. Pasti di sana masih perawan banget hutannya. Tetapi kalau kita lihat kondisi Kalimantan sekarang sudah jauh berbeda.

Berapa lama selang waktu produksi album ketiga dengan Soul of Borneo?

Sebenarnya lagu-lagu di dalam ini udah sering dibawaiin, sekitar 3 sampai 4 tahun. Saya berhenti untuk produksi album fisik sebenarnya udah lama sih. Karena ngeliat kondisi industri musik juga sekarang jarang banget yang mau produksi album fisik. Rata-rata digital semua. Cuma saya bilang ke teman-teman manajemen, kita coba lagi deh produksi album fisik.

Jeda ke album keempat itu 3 sampai 4 tahun juga. Karena selama 3 tahun itu aku fokus nge-band. Jadi hilang. Aku enggak solo sama sekali.

Bagaimana apresiasi pasar terhadap album-album sebelumnya?

Untuk album pertama, kedua, dan ketiga, aku off produksi. Misalnya kalau aku ke Malaysia aku bawa stok ke sana. Di luar sangat diapresiasi. Karena di sana walaupun mereka dengan digital store, mereka tetap ingin mengoleksi fisiknya sebagai kenang-kenangan. Akhirnya kita coba deh.

Tantangan apa yang Uyau Moris hadapi selama berkarir di musik tradisional?

Sempat jeda 3 sampai 4 tahun dari album ketiga ke album keempat ini karena selama itu aku ngeband. Jadi hilang. Aku enggak solo sama sekali.

Saya coba terjun ke industri musik, berat banget dengan genre yang kami bawakan. Itu berat banget masuk industri musik Indonesia. Jadi akhirnya resign nge-band. Aku kembali ke jalur solo. Coba kembali dengan cara aku yang lama dan sangat membuahkan hasil.

Hasil yang Anda maksud?

Ternyata dengan cara solo sendiri itu lebih asik. Kita bisa mainin genre apa aja. Kita bisa masukkan pesan lingkungan apa aja. Hari ini juga bikin musik dengan isu lingkungan yang terjadi saat ini, itu bisa banget.

Tetapi ketika masuk ke industri musik, udah diatur. Ketika udah ngerti di industri seperti itu, akhirnya pilih sendiri.

Instrumen yang mana paling divaforitkan di Soul of Borneo?

Ada 2 yaitu Hope sama Menu Lepu. Hope ceritanya tentang harapan akan Tanah Borneo hari ini dan esok.  Karena hari ini sudah lumayan kritis. Aku pengen Kalimantan tanah kita itu besok, dan nanti itu seperti dahulu. Generasi muda peduli dengan lingkungan. Walaupun sekarang udah kritis banget.

Kalau Menu Lepu bercerita tentang rasa kangen di tanah rantau. Bagaimana seseorang merindukan suasana di kampung halaman. Di sana kan banyak hal-hal kecil yang dilewati. Seperti mandi sama temen-temen, makan masakan rumah, ngobrol. Karena beda banget, setiap masyarakat punya budaya dan berkomunikasi berbeda-beda. Ada hal-hal kecil yang kita rindukan ketika kita berada di kampung halaman dan di tanah perantauan. Itu yang dimuatin pesan di dalam Menu Lepu.

Berapa dana yang dihabiskan menggarap Soul of Borneo?

Ongkos produksinya nggak terlalu berat. Karena kita sama temen, jalan. Sekitar Rp 10an juta. Rekaman, kami di Jogja.

Semua instrumen di album ini sudah punya video clip?

Yang belum ada video clip itu Hope, Tidau Anak Ozo, sama Leleng. Itu belum. Dalam waktu dekatlah penggarapan. Karena memang dalam waktu 2 bulan ini aku fokusin promosi.

Minat anak muda zaman sekarang di Tanah Air terhadap musik tradisional sudah kurang. Apa pesan Uyau kepada mereka?

Itu salah satu pesan yang aku angkat juga. Kan selain berkarya sendiri, aku juga meng-cover lagu memakai alat musik tradisional. Aku mau ajak anak-ajak muda bahwa musik tradisional itu keren. Bisa kok masuk ke semua segmen musik. Kita bisa memainkannya di metal juga bisa.

Ini juga sedang garap mini album metal bersama temen. Aku pengen ngejar sih bahwa alat musik tradisional bisa masuk di semua segmen atau aliran-lah. Itu tantangan bagi aku sebagai pelaku musik tradisional. Dari kecil memang suka musik, Untungnya di-support lingkungan aan keluarga. Support dari orang-orang terdekat itu sangat dibutuhkan. (*/mma)

Tags

Related Articles

Back to top button
Close